Dua Jenis Manusia




Ada dua jenis manusia. Pertama, yang membuat kisah pribadinya, dan kedua, yang membuat sejarah.


Tujuan mereka yang membuat kisah pribadi adalah untuk kepuasan dirinya sendiri, sedangkan manusia yang membuat sejarah berusaha untuk melayani seluruh manuia. Perhatian seorang yang membuat kisah pribadi berputar pada dirinya sendiri. Dia melayang-layang di sekitar wilayah di mana kepentingan dirinya dapat tercukupi. Hatinya penuh dengan kebahagiaan jika dia berhasil meraih sesuatu bagi dirinya, tetapi bila tidak ada sesuatu yang dapat diraihnya, maka tidak ada kebahagiaan dalam dirinya.


Sedangkan orang yang membuat sejarah adalah sosok yang berbeda. Ia keluar dari kerangka dirinya. Hidup bukan untuk diri sendiri tapi untuk satu tujuan yang lebih tinggi. Yang menjadi perhatian adalah masalah prinsip, bukan keuntungan. Ia tidak peduli apakah dirinya akan meraih kemenangan atau menderita kerugian; yang lebih penting adalah idealismenya harus tersalurkan. Seolah-olah ia telah melepaskan diri dari pribadinya sendiri dan menancapkan benderanya pada berbagai kepentingan kemanusiaan.


Lalu bagaimana agar dapat menjadi orang yang membuat sejarah? Ada satu hal yang harus dilakukan. Yaitu, berhentilah menjadi orang yang membuat kisah pribadi. Begitu seorang menghapuskan kepentingan pribadinya, maka dia akan mampu membangun masa depan kemanusiaan. Sosok seperti ini meletakkan keluhan-keluhannya hanya ke satu sisi. Figur seperti ini yang akan diperhitungkan dalam sejarah manusia. Mereka adalah orang-orang yang atas keinginannya sendiri, konsen terhadap kepentingan kemanusiaan; mereka tidak mengambil hak untuk mendapatkan perlindungan; mereka hanya memiliki tanggung jawab, yang mereka lakukan dengan resiko apa pun bagi dirinya.


Now, which one are you going to be?

jika aku jadi kamu....

"lo kok gitu sih? orang2 lagi ribet, lo malah pergi ke khitanan ponakan loe. KALO GUE JADI LOE ya, gue gak bakal ngelakuin itu. solider dong ama temen... bla...bla...bla..."

glek.

dari sana kedua teman itu tak lagi sedekat biasanya... malah bisa dibilang bermusuhan. gak saling sapa, gak lagi ngajakin kalo ada acara bareng, dsb dsb.

KALO AKU JADI KAMU. kenapa ya, kita kadang merasa PD bisa melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang dilakukan si A kalau kita jadi A?

Kalo aku jadi SBY ya, gak bakal aku naekin harga BBM itu..
kalo aku pengamen cilik itu, aku gak bakal mau ngamen lagi, mending usaha daripada ngamen... malu-maluin..
kalo aku jadi kamu... aku gak akan bla...bla...bla...
kalo aku jadi dia aku bakal... bla...bla...bla...


kalo dipikir ulang kalo kita jadi dia tapi gak ngelakuin apa yang dia lakuin, kita tidak lagi sedang menjadi dia.

lagipula kalo kita jadi dia, kita tidak akan menjadi kita yang memiliki pola pikir seperti kita sekarang, yang hidup di keluarga kita sekarang, yang bergaul dengan teman2 kita sekarang, yang mungkin bisa lebih dekat dengan teman ketimbang keluarga, dsb dsb..

kalo kita membayangkan "kita jadi dia", kita tentu harus pula membayangkan kita hidup di keluarga dia yang mendidiknya hingga memiliki pola pikir seperti sekarang, kita juga harus membayangkan hidup di lingkungan pertemanannya yang membentuknya seperti sekarang, kita juga harus membayangkan kita punya pola pikir seperti dia, kita juga harus mau menerima kalo dia lebih dekat dengan keluarga daripada dengan teman...


bisa jadi setelah kita mencoba membayangkan semua itu, kita batal untuk mengatakan "jika aku jadi kamu aku gak bakal ngelakuin yang kamu lakuin" tapi mungkin kita justru akan bilang "kalo aku jadi kamu, sepertinya aku juga bakal ngelakuin apa yang kamu lakukan"

tapi kita bisa mengganti kalimat "kalo aku jadi kamu" dengan "kalo aku ada dalam posisimu", meskipun itu tetap saja tidak boleh dijadikan alasan bagi kita untuk memaksakan kehendak kita pada orang lain, karena yang penting, baik, keren di mata kita bisa jadi sebaliknya di mata orang lain.

bila sudah begitu, sifat egois pun jadi relatif.

si A bilang si B egois karena lebih mengutamakan keluarga daripada teman.
si B pun bisa jadi bilang si A egois karena tidak memikirkan betapa pentingnya arti keluarga buat si B.

....

tidak terlalu cepat menghakimi dia egois, dia salah, adalah lebih baik.


yang lagi renggang karena salah paham, yuk ah kompakan lagi...
_mee_

sejarah terbit yang hilang

 beberapa waktu yang lalu kami datang. dengan tulisan, kami semua meyakini bahwa hal tersebut sangatlah arogan. oretan kami penuh prahara. memancing amarah para mereka yang pintar dan bijak. sekarang setelah semua selesai kami pun seperti hilang. terbuai akan kesenangan dan kesulitan yang telah diatasi. kemana kami membawa diri ini? ketempat jauh dari wadah tampungan bakat. waktu menjadi Tuhan. waktu kini mendatangkan kesenangan. 

sejarah ini akan dikenang. suka dan duka tersimpan disini. kami telah pergi jauh. jauh dari renungan dan curahan. 

ini yang dianggap sejarah awal yang tampak dilupakan. kemana bocah yang dulu kesal. kemana bocah yang dulu menjadi penengah. kemana bocah yang dulu bercurhat. opini dan tulisan seperti titik hitam dalam lingkaran angkasa. 

apakah kami lelah? apakah kami bosan? apakah kami terlalu bangga atas apa yang kami dapatkan? 

buatlah ini menjadi wadah dimana anak-cucu kita kelak akan membacanya. 

jangan biarkan ini berlalu tanpa nafas seperti sejarah terbit yang hilang. seperti pohon yang bangga atas buahnya dan menghilangkan akarnya. 

The day I got "Blue" is the day i lost you....

udah lama eung gak ngisi blog... sempet linglung jga kemana ini blog.. trnyata ganti nama... sebelum nulis yang gimanaaa gitu... mu curhat dulu... (ini bukan puisi)


The day i got blue is the day i lost you....

Did u know?
when the "blue" was ours, everybody surround me was very happy...
maybe they enjoyed their feeling... ya maybe they felt free after the busy 4 months we had..
but, why did I feel so worry?
it's my time.. it's our time..
i thought i had no reason to be worry...
oh, wait... yes i did.
ya, it's all about you....


now, i knew,
the day i got "blue" is the day I lost you...

sorry..
i can't do nothing 4 you but just help you to scratch your back when you lied weakly....
i can't do nothing 4 you but just help you to eat the watermelon, the one and only food u can eat...

that's the last time i saw you... the seventh of february 2009... ten days before i lost you...

ya, the day i got "blue" is the day i lost you...


_love you grandpa_

_mee_

belajar bahasa inggris ceritanya....


"Sedih karena kehilangan seharusnya tidak pernah ada dalam kamus bahasa apapun" (Budi Hermawan:Dosen UPI)

Membayangkan Menjadi Wartawan

Kita pantas bersyukur atas karunia Allah Swt. yang telah memberikan naluri ingin tahu (bertanya) dan naluri ingin memberi tahu (bercerita) kepada manusia. Karena menonjolnya kedua naluri ini, keduanya menjadi hak manusia yang harus dilindungi. Aturan universal yang melindunginya terdapat pada Deklarasi Umum Hak-hak Asasi Manusia (DUHAM) yang diproklamasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Senada dengan aturan tersebut, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang telah diamandemen, memuat pula mengenai hak tersebut. Tanpa itupun sebenarnya setiap orang sudah harus memiliki kebebasan untuk mengetahui dan memberitahukan sesuatu kepada sesamanya.

Namun karena keterbatasannya, hak-hak tersebut didelegasikan kepada wartawan. Wartawan diamanahi oleh khalayak untuk mencari tahu dan memberitahukan fakta atau realitas yang benar. Selain itu, wartawan harus memperhatikan nilai-nilai berita sebelum menyajikan realitas dalam media massa bahkan sebelum melakukan wawancara. Adapun acuannya yaitu: penting, kedekatan, aktualitas, ukuran, ternama, konflik, seksualitas, emosi, luar biasa, konsekuensi, kemajuan, mukjizat, dan tragedi.

Setelah salah satu acuan tersebut terpenuhi, barulah wartawan dapat melakukan “perburuan”. Banyak-sedikit dan tinggi rendahnya kualitas hasil “perburuan” sangat bergantung kepada kekayaan wartawan tersebut. Kekayaan yang dimaksud adalah kekayaan intelektual dan emosional serta kekayaan sosial dan rohaniahnya. Sebagai salah satu bentuk “perburuan”, wawancara pun harus cermat diperhitungkan oleh seorang wartawan dengan memilih jenis pertanyaan. Kualitas jawaban terwawancara sangat ditentukan oleh kualitas pertanyaan pewawancara. Dengan sikap yang profesional, wartawan tentunya akan dapat melaksanakan mandat yang diemban dari khalayak yang sangat mengharapkan kebenaran. Untuk melaksanakan tugas itu, wartawan harus bebas dan harus lepas dari iming-iming imbalan.

“Kalau saya harus memilih antara Pers bebas dan dengan pemerintah, maka saya akan pilih pers bebas”, demikianlah yang dikemukakan oleh Thomas Jefferson. Beliau mencoba memberikan sebuah ilustrasi dimana pers yang bebas aadalah lebih baik daripada pemerintah yang tidak dikontrol. Ilustarasi diatas jika ditarik dalam konteks Indonesia, maka hal itu mungkin terlihat naïf, dan jauh dari realitas. Indonesia pasca keruntuhan rezim Soeharto pada tahun 1998 telah dilanda euphoria kebebasan. Implikasi dari kebebasan ini salah satunya ialah kebebasan pers, dimana pemerintah atau siapa pun tidak diperkenankan untuk mengatur dan mendikte pers mengenai pemberitaan dan menghalangi pers untuk memberikan kritik terhadap pemerintah.

Tuntutan seperti ini dapat dipahami dari dua sudut pandang yang pertama dalam kerangka kesejarahan dimana ada sebuah trauma masa lalu yang telah dialami pers Indonesia dalam era Orba, kita bisa mencatat beberapa kasus yang menunjukan represifitas terhadap pers ketika pemberitaannya tidak berkenan di hati penguasa, pembredelan majalah Tempo, kasus pembunuhan wartawan Bernas Udin di Bantul dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya. Yang kedua terkait dengan tuntutan demokratisasi akhir-akhir ini independensi pers merupakan sebuah tuntutan mutlak bagi berjalannya sebuah proses demokrasi, dikarenakan pers selama ini telah berfungsi sebagai “The fourth estate” pilar keempat dari negara demokrasi selain legislatif, yudikatif dan eksekutif. Dimana menurut Montesque harus ada pemisahaan terhadap ketiga hal tersebut, dan seiring dengan perkembangan zaman maka pers dianggap merupakan lembaga yang keempat dan harus terpisah dari ketiga lembaga lainnya.

Permasalahan yang timbul disini ialah adanya ekses dari kebebasan pers, yaitu terkait dengan keprofesiaan wartawan dimana sering terjadi penyalahgunaan dari press card untuk mendapatkan uang, hal ini bisa dilihat dari adanya sebuah pameo dikalangan wartawan jika ada seorang waratawan meminta gaji pada penerbitnya untuk meminta gaji, penerbitnya menjawab buat apa kamu memiliki pers card. Dimana hal ini menandakan kartu pers tersebut harus digunakan[1], dalam mencari nafkah hal ini bisa kita temukan didalam pada saat ini dengan sebutan Wartawan Amplop.

Implikasi terhadap penyalahgunaan profesi pers ini akan berdampak sangat luas, dimana tidak hanya hal ini mengancam kebebasan pers itu sendiri, tapi juga mengancam proses demokrasi, dan yang lebih penting ialah untuk mencegah terjadinya tirani pers dimana pers akan dijadikan alat politik karena adanya sogokan untuk membuat berita dan wartawan amplop bisa digunakan kearah tersebut, hal ini dikarenakan kemampuan untuk memanipulasi yang dimiliki oleh pers sangatlah luar biasa. Kemampuan ini dapat kita ilustrasikan sebagai berikut, ada mahluk asing yang akan segera menyelesaikan desertasinya untuk mengambil Phd, dimana dia akan meriset tentang Permainan Sepak Bola berdasarkan pemeberitaan surat kabar yang ada diperpustakaan dalam desertasinya dia menggambarkan bahwa sepak bola merupakan permainaan yang menarik dan dia dinyatakan lulus. Setelah menyelesaikan studinya dia diberi kesempatan untuk menonton sepak bola langsung di Bumi, ternyata dia sangat kecewa dengan hal tersebut dan seharusnya dia tidak lulus karena dari 90 menit pertandingan hanya 5 atau 10 menit saja yang seru. Dan karena dia tidak pernah melihat permainan sepak bola sebelumnya, sehingga dia menarik kesimpulan bahwa sepak bola tersebut hanya seru 5 menit seperti yang diceritakan dikoran. Hal demikian menunjukan kemampuan memanipulasi yang sangat luar biasa, bahkan Hitler menyadari hal ini dan menjadikannya alat propaganda dan ada sebuah pameo yang terkenal darinya “kebohongan yang diberikan terus menerus akan menjadi sebuah kebenaran” dan kebohongan ini disebarluaskan menggunakan media sebagi sarananya.


dari berbagai sumber

Makna Waktu

Untuk memahami makna satu tahun
Tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas
Untuk memahami makna satu bulan
Tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi prematur
Untuk memahami makna satu minggu
Tanyalah seorang editor majalah mingguan
Untuk memahami makna satu hari
Tanyalah seorang pekerja dengan gaji harian
Untuk memahami makna satu jam
Tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya
Untuk memahami makna satu menit
Tanyalah seseorang yang ketinggalan kereta
Untuk memahami makna satu detik
Tanyalah seseorang yang selamat dari kecelakaan
Untuk memahami makna satu mili detik
Tanyalah seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade

Dan akhirnya, sadarkah Anda bahwa waktu terus berlalu?
Siapkah Anda mempertanggungjawabkan kepada Allah
bagaimana Anda menggunakan setiap mili detik waktu Anda?

Lewat Radio, Setelah Sebelumnya Kertas, Lalu Apa

"Pendidikan (bisa jadi) tertinggal dengan teknologi, (namun) yang disiapkan (dalam pendidikan) adalah pola pikir adaptif dengan kemajuan. Teknologi hanyalah alat."

Teknologi Komunikasi hingga kini masih terus mengalami perkembangan. Kita masih berada pada waktu yang berputar dan bergerak. Begitu pula dengan teknologi. Akan ada hal-hal yang baru yang mungkin saat ini masih hanya sebatas angan tetapi di kemudian hari mungkin teknolgi tersebut adalah bagian dari keseharian kita. Manusia masih akan terus memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk mengembangkan teknologi yang akan memberikan kemudahan kepadanya (manusia).

Mungkin tak terbayangkan pula di zamannya (zaman media cetak merajalela), sebuah teknolgi komunikasi bernama radio dapat hadir di tengah peradaban manusia. Penggunaanya serta kontennya terus berkembang sejak ditemukannya peranti keras tersebut. Berbagai muatan pun masuk ke dalam siarannya. Dapat disebutkan di antaranya yaitu penggunaan di bidang militer, hiburan, "corong" pemerintah, dan tidak ketinggalan yaitu bidang jurnalistik. Tentu saja bidang yang disebut terakhir ini mengalami penyesuaian dari sisi penyajian mengikuti karakteristik media itu sendiri, setelah sebelumnya melekat dengan media cetak.


Kajian tentang karakteristik radio tersebut dapat kita pelajari sekarang. Disebutkan bahwa karakter radio tersebut adalah auditif, sederhana, dan tanpa batas. Dengan "keauditifannya", radio dituntut mampu memciptakan Theatre of Mind tapi tetap antidetail karena radio itu selintas tanpa bisa diulang. Penyampaiannya harus tetap sederhana karena memang mekanisme kerjanya cukup sederhana. Dapat dimaklumi bila ada yang menganggap bahwa radio adalah Secondary Media atau dapat disebut pula Half Ears Media karena (siaran) media ini dapat dinikmati sambil lalu. Walaupun demikian, ihwal kecepatan informasi (aktualitas) radio adalah jawaranya. Selain itu, penyajian informasi via radio ini bersifat langsung layaknya dalam sebuah percakapan, sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa tutur. Dengan demikian, bahasa yang digunakan pun memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan bahasa di media cetak.

Kekhawatiran akan punahnya media yang telah ada akibat "kelahiran" media yang lebih baru tentu menyeruak ke permukaan. Namun, hal itu pada kenyataannya tidak terjadi. Masing-masing media menempati porsinya masing-masing karena memiliki karakteristik yang berbeda.

Hal ini perlu diingatkan kembali bahwa terjadi dalam "persaudaraan" media cetak dan media elektronik yang diwakili radio. Buktinya penemuan teknologi komunikasi yang lebih baru lagi yaitu televisi terbukti cukup "menggoyang" eksistensi media elektronik pendahulunya yaitu radio. Bahkan saat ini eksistensi televisi pun mampu menurunkan oplah media cetak secara tidak langsung akibat aksesnya yang lebih luas, selain dari kemudahan dalam menikmatinya. Manusia dapat lebih bersantai menikmati informasi sambil menonton dan mendengar dibanding harus membaca. Namun di samping itu, dari lihat (baca), dengar, dan lihat dan dengar pun, perkembangan media beserta jurnalistik masih turut menyertai.

Perkembangan teknologi informasi tidak berhenti di sana. Tuntutan sebuah media untuk tetap adaptif terhadap perubahan kembali harus diterima media cetak maupun elektronik. Hal ini dipicu oleh hadirnya media online yang sejalan dengan berkembangnya jaringan internet. Kembali sebuah shock therapy harus dirasakan media-media terdahulu (cetak yang terdiri dari koran dan majalah; elektronik yang terdiri dari radio dan televisi). Penyesuaian harus dilakukan.

Lahirlah apa yang disebut konvergensi media yang dibidani oleh Roger Fidler pada tahun 1998. Dimana secara sederhana dapat dikatakan bahwa dengan konvergensi itu, sebuah media memadukan yunsur cetak ang berkomposisikan teks dan gambar, juga unsur elektonik yaitu suara dan video dalam sebuah media. Itulah media konvergen.

Melihat fenomena terakhir, kembali media harus kembali pada karakternya dan menguatkan karakternya tersebut, sehingga ancaman kepunahan takkan pernah terjadi. Misalnya saja radio, ia harus bisa kembali dan tetap lokal tanpa mengesampingkan kemajuan global. Mungkin begitu pula seharusnya televisi. Alasannya mencakup aspek ekonomi agar tidak berpusat di ibukota (tempat berkumpulnya korporasi media), lalu signifikasi isi dengan kebutuhan dan dinamika setempat, dan terakhir keanekaragaman budaya dan kearifan lokal dapat terjaga supaya tidak terjadi penjajahan kultural dan budaya massa yang melampaui batas.

Setuju Rokok Diharamkan ?

assalamualaikum wr.wb

Wacana masalah pelarangan rokok ini memang dahsyat tetapi kurang greget. MUI baru-baru ini mengumumkan bahwa rokok adalah haram bagi orang Islam. Mengapa hanya ditujukan kepada orang Islam? Pertanyaan ini sederhana saja, karena tidak mungkin semua orang akan mematuhi peraturan tersebut. Indonesia bukan negara Islam tapi negara yang mayoritas Islam. Dalam mayoritas itu pun tidak semua fanatik dengan Islam. MUI juga tidak memiliki track records yang baik. Ambil simplenya saja, peraturan pemerintah melarang rokok betebaran di Jakarta saja diabaikan apalagi peraturan MUI. Bukan maksud meremehkan tetapi begitulah kondisi masyarakat Indonesia yang kebanyakan “do not obey the rule” . Itulah yang saya tangkap dari penduduk Indonesia.

Pemerintah yang merupakan kekuasaan tertinggi di suatu negara saja tidak dapat melakukan apa-apa untuk menghentikan laju asap yang keluar masuk. Keluar ke udara dan masuk ke paru-paru. Bagaimana kita menyikapi rokok? Setuju rokok diharamkan atau tidak? Apalagi cukai rokok sangat membantu ekonomi Indonesia. Beberapa orang mungkin setuju dan beberapa lainnya tidak. Saya termasuk orang yang tidak setuju. Tidak setuju dalam artian bahwa peraturan ini mungkin saja menjadi sia-sia dan makin banyak para penghisap baru bermunculan. Hal ini bisa jadi karena faktor penasaran mengapa rokok itu diharamkan. Ada apa di dalam rokok sehingga diharamkan.

Sisi baiknya dari pengharaman rokok adalah kandungan yang ada pada rokok yang sudah diketahui oleh semua orang. Untuk apa merokok jika tidak menguntungkan bagi diri sendiri. Saya juga heran mengapa saya merokok. Pengharaman tersebut sangat rasional mengingat banyaknya tingkat kematian yang diakibatkan oleh rokok. Dosen hebat sekaliber Pak Sahala pernah berucap bahwa tingkat konsumsi yang paling tinggi adalah rokok dan short message service yang berada di urutan kedua.

Bagi para penikmat, hisapan rokok merupakan sebuah rasa kebebasan. Pernah saya bertemu dengan seorang teman yang menganggap rokok sebagai wanita. Berikut adalah petikan percakapannya :

A = menghisap rokok yang baru saja dibakar :

“aduhai cantik”

B = terheran-heran :

“mana yang cantik, yang pake baju apa?”

A = menjawab :

“bukan cewek dodol, tapi ini nih (rokok). Nikmat bener”

Begitulah kira-kira percakapan seorang teman yang candu oleh rokok. Tidak ada alasan yang pasti mengapa orang tersebut merokok. Jadi apa mungkin fatwa-fatwa atau peraturan mengenai pengharaman rokok akan dilaksanakan atau malah hanya menjadi kelitikan di telinga saja. Baik dan buruk berbeda tipis. Baik dapat menjadi buruk dan begitu sebaliknya. Memakai kalimat Haekal a.k.a Baw, “Persepsi tidak bisa disengaja-samakan”. Memakai kalimat Amee, “tolol di mata A bisa menjadi keren di mata B”. Kita tunggu kabar aksi selanjutnya.


*Merokok dapat menyebabkan kanker, kanker lagi (kantong kering), gangguan kehamilan serta janin, serangan jantung, impotensi, mulut berbau tidak sedap, polusi, ditolak berciuman, batuk, kesundut, gigi berkerak dan sejenisnya lah… keren, funky, anak jaman sekarang.


Satu lagi pertanyaan ringan:

Apa bedanya smoker dan sucker? Kedua-duanya sama-sama memiliki arti yang similiar. Smoker adalah perokok dan sucker adalah penghisap. Perokok juga melakukan teknik penghisapan. (bingung sendiri)


wassalamualaikum. wr.wb

aloha

Oh iyah.. mumpung baru tau caranya ngeblog,,,

jadi pengin nulis lagi...

gini loh ceritanya,,,

tau Butet Manurung kan? Pendiri sokola rimba. sekolah alternatif untuk anak-anak yang belum tersentuh pendidikan formal,,

bertahun-tahun Butet ngajarin orang rimba (suku anak dalam) baca tulis hitung di hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi. Selain di Jambi, sekolah itu udah dibuka juga di Aceh sama di Flores...

cuma, dua sekolah terakhir terancam tutup karena kekurangan dana..
jadi buat temen-temen yang mau ngebantu bisa beli barang-barang sokola di saya. barang-barangnya semacem kaos, pin, buku, dan gantungan ...

hasil penjualan dikurangin biaya produksi, langsung dikasih buat keberlanjutan tu sekolah...

serius ga ngambil untung,, ga jualan juga,, cuma ngasi tau,, okey...

nuhun...


auw

wau,, baru nulis dan baca lagi blog ini,, dan saya sedikit tersentak dengan posting dan comment yang beredar di sini,,,emang sih yang nulis lu lagi lu lagi,, tapi wajarlah,,
ya kaya saya ini.. jarang nulis gara-gara akses ke internet emang rada susah,,
warnet jauh, laptop ga punya, posisi juga seringnya di tempat-tempat yang tidak terjamah peradaban...
haha

facebook gatau, blog baru ngeh, YM belom khatam, email seperlunya,,,
repotlah...
gaptek...

lagian emang gak terlalu suka berhubungan dengan si dunia maya...
yah buat hal-hal yang penting aja..bagi saya sih berkomunikasi langsung lebih oke...
soalnya ngobrol di media beginian berasa ngobrol ama siluman ular putih..
tatut...

yah itulah sekelumit kisah kehidupan si cahyo...

jadi..
kayaknya berlebihan dan gak adil juga kalo ada kesan suara kawan-kawan yang sering nulis di sini mewakili suara jurnal 07 keseluruhan,,

soalnya saya juga ga ngerasa diwakilin atau terwakili,,,

kita semua pasti punya pendapat sendiri tentang apapunlah...
kalo pendapatnya ga keluar di sini, ya mungkin mereka lebih nyaman lewat media laen..

sokeylah..

yang penting mah asik...

begitu sodara-sodara...

atos ah...

hatur nuhun...
hatur nuhun...

Ether Aura - Crash (2005)

Saya memulai untuk menulis review seperti ini karena sejujurnya sudah amat sangat muak melihat disfungsi dari blog ini yang isinya melulu OJ dan OJ. Ya, dari sekarang mari kita jalani kawan-kawan, dengan sebaik mungkin.
Untuk memulai kejenuhan di blog ini, saya memulai dengan review, ya album Crash dari band rock/dreampop asal Detroit, Amerika Serikat yang bernama Ether Aura.
Album pertama dari Ether Aura yang berjudul Crash ini semula saya harapkan akan berbunyi seperti Au Revoir Simone setelah seorang kawan mengatakan bahwa vokalis dari Ether Aura adalah seorang wanita. Ya, saya berasumsi untuk menyamakan vokal Kate Hinote dengan Erika Forster dan kawan-kawan tapi nyatanya tidak. Musik mereka mengingatkan saya kepada Cocteau Twins, band dreampop asal Falkirk, UK.
Track pertama kita disambut dengan lagu All Doves Grey yang bertempo cukup sedang namun membuat kita terbawa dalam alunan musik dreampop sedikit gothic yang kental sekali. Tempo naik di lagu ketiga yakni 6 Days Yesterday, hingga lagu-lagu selanjutnya Crash, Falling, Why, Once Shed Skin dan ditutup dengan satu buah bonus track yakni lagu Last Night I Dreamt That Somebody Loves Me yang mereka cover dari The Smiths. Suara dari vokalis The Smiths, Morrisey berubah menjadi suara vokal seorang wanita dengan musik bertempo lambat dan nuansa dreampop yang sangat kental. Satu lagi, permainan gitar dari Tony Hamera dan Alex Bongiorno-lah membawa kita jauh ke dalam musik Ether Aura ini.
Bagi penggemar Cocteau Twins, Lush, Curve dan band-band setipe lainnya, Ether Aura menjadi salah satu alternatif baru di dunia musik pop bernuansa gelap. Hahahaa, pop metal kali yah.
Silahkan kawan-kawan mencari tracknya karena saya tidak bisa mem-posting-nya di sini mengingat ini adalah blog bukan situs download. Hehehehe.

Tracklist Ether Aura - Crash (2005):
1. All Doves Grey
2. About You
3. 6 Days Yesterday
4. Hardly Know You
5. Crash
6. Falling
7. Why
8. Once Shed Skin
9. I'm All You Need
10. Waiting
11. In Oceans
12. Last Night I Dreamt That Somebody Loved Me (The Smiths covers) (bonus track)

P.S: Yang ditulis tebal berarti highlighted songs.

Thanks for reading, semoga bisa menjadi pemicu bagi kawan-kawan lainnya untuk menulis review/resensi dari hal lainnya seperti film dan buku dan lainnya.
Wassalam.

Haekal Adzani
Jum'at.30.1.09.1:31.A.M.

Hidup untuk berjuang

MANTAPKAN HATI
BULATKAN TEKAD
JALANI DAN HADAPI DENGAN GAGAH BERANI

Mantapkan, bulatkan, yakinkan, sugestikan diri untuk mengarungi setiap detik perjuangan..
Jalani, hadapi, nikmati perjuangan dengan berani, tanpa ketakutan, tanpa keraguan..

For my family!

"For my family for my friends for those that we've lost I sing!"
Penggalan lirik dari Agnostic Front, sebuah band Hardcore asal New York, Amerika menemani pagi yang kelabu ini.
Mengingat perjuangan yang telah kita lalui selama ini, walaupun saya baru bergabung setelah forum tempo hari. Tapi saya bangga menjadi bagian dari kalian. Berbagai pertemuan-pertemuan dan forum yang pernah kita lakukan secara klandestin memang betul-betul menjadikan kita semua sebagai suatu kesatuan yang sangat erat.
Oleh sebab itu, kita akan selalu mengingat pertemuan kita di awal, dan seterusnya. Jika cinta mempersatukan dua hati, maka kita adalah sekumpulan dari cinta-cinta yang memasukkan hati itu ke dalam peti, dan meleburkannya menjadi satu hati. Hati yang memantapkan jiwa setiap makhluk di sini, ke dalam jiwa yang besar. Proses pembentukan karakter yang mungkin tidak akan kita temukan dengan cara lain.
Kawan, mari kita satukan suara, satukan hati, samakan pikiran (bukan persepsi karena persepsi tidak mungkin bisa di-sengaja-samakan), kita selalu punya hal yang bisa kita buktikan karena kita mampu, karena untuk saat ini, yakinlah bahwa kita satu jalan.
Perbedaan tujuan pada akhirnya adalah suatu kenikmatan. Nikmatilah perbedaan itu. Ingatlah kawan, dari hari ini dan seterusnya kita adalah saudara.
Pererat keyakinan itu. Percayalah kawan, semua tidak akan berakhir di sini.
A family lives eternally, we were meant to meet, and will last eternally.

"we always stuck together
we always had something to prove we gave birth to a movement this is for the old school and the new!"

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Haekal Adzani
28.1.09.7:27.AM.

Ini soal ZINE

saya mau cakap soal ZINE

memang dari hasil propaganda (beuh propaganda,,,,) lewat facebook, secara kuantitas memang sedikit. tapi itu bukanlah pengganjal dan halangan berarti bagi saya dan baw untuk terus memelopori (gaya, jiga partai vanguard wae, ngomongya soa kepeloporan massa) ZINE ini. lagipula, kita bisa cari kontributor dari luar, jumlahnya melimpah, asal intes aja kontanya.

ok kalo introduksi soal zine, baw udah memberikan penjelasan yang cukup. sekarang bicara soal klonsep kasar isi zinenya.
secara garis besar, zine yang akan digarap konsepnya mirip dengan majalah INTISARI (ingat, ini bukan minuman beralkohol). jadi ZINE ini tidak menekankan pada satu bidang tertentu misal Sosial politik saja, ekonomi saja, fashion saja. atau musik saja. kita hampir membahas semua aspek, ya mulai dari sospol, gaya hidup, musik, film, budaya, filsafat...
maskusdnya, beragamnya rubrik yang seperti itu disesuaikan dengan tujuan ZINE ini, yakni, MENCEGAH ILETARASI (jarang baca) sehingga diharapkan nantinya zine ini menag memertikan wawasan lebih tentang banyak hal. jadi pembaca menjadi SEDIKIT TAHU TENTANG BANYAK HAL.

untuk main issue pertama, ada beberapa usulan
1. tentang museum dan sejarahnya. ini untuk mendukung Visit Museum 2010. soal akses dan literatur, baw bisa diandalkan. alasan filosofisnya, KITA HARUS TAHU SEJARAH KITA SENDIRI. lagipulan Bung Karno pernah bilang, Jasngan sekali-kali meninggalkan sejarah.
2. soal sejarah juga sich, tepatnya sejrah tentang gula, kopi , dan teh. ketiga item tersebut,tidak begitu saja muncul di meja. ada sebuah cerita panajng di balik hadirnya gula, kopi, dan teh di Indonesia yang mana sejarah gula, kopi, dan teh adalah sejarah penindasan (tanam paksa)
ada juga bahsan soal vegetarianisme/vegan dan saya bisa interview dengan seorang penggita vegan dan dia membuat zine juga khusu vegan dan staight edge (tidak merokok dan tidak minum alkohol, juga drugs tentunya, gak tahu deh kalo ngelem aibon).
kebetulan sayajuga dapet kontak orang vegan tersebut, namanya xNANUx, nak jogja.

MARI BERKARYA DENGAN APA YANG KITA BISA
DO IT YOURSELF
DO IT WITH YOUR FRIENDS

ilmu pengetahuan, filsafat, dan ideologi

ini, buat ngetes sejauh mana saya paham sama apa yang saya baca


menurut Ali Syari'ati terdapat perbedaan antara ilmu pengetahuan, filsafat dan ideologi.

ilmu pengetahuan adalah hal2 yang berhubungan dengan manusia dan alam secara fisik... apakah itu detil2 nya, prosesnya, prinsipnya, dsb.. pokonya hubungannya dengan fisiklah.. ilmu pengetahuan adalah citra mental dari yang kongkrit.

sedangkan filsafat itu substansinya atau ilmu pengetahuan yang mendalami ilmu pengetahuan. jadi bukan sekedar tahu ini detilnya seperti apa atu prosesnya seperti apa, tetapi juga memahami esensinya, mengapa? mengapa seperti ini? mengapa seperti itu? apa ini ? apa itu? (lho??)

dan ideologi lebih jauh lagi... orang yang berpikir ideologi tidak hanya berhenti sampai tahu saja, tetapi mencoba memberi saran, melakukan tindakan, dan merubah status quo yang dialami... orang yang berpikiran ideologi adalah orang yang masuk dan ikut terlibat pada suatu isyu.. bukan hanya sekedar memperhatikan, tapi juga ikut terjun... ideologi akan selalu diawali dengan tahap kritik terhadap status quo yang terjadi. dan selanjutnya dan selanjutnya hingga terjadilah perubahan...


komitmen ini (untuk mengubah)yang tidak dimiliki oleh filsafat dan ilmu pengetahuan.

lalu, apa pula peran agama??

masih menurut buku ini (karna emang cuma ngambil dari satu sumber ^^), bagi Ali Syari'ati, agama itu memiliki 2 wajah, ia mencontohkannya dengan Islam karena ia memang beragama Islam. ada 'islam tradisional' dan 'islam ideolog'. mungkin bisa lebih diperluas menjadi 'agama tradisional' atau 'agama ideologi'.

agama sebagai hal yang tradisional itu hanya berupa kumpulan tradisi asli dan kebiasaan masyarakat yang didasarkan pada semangat kebersamaan. katanya ni, kebiasaan2 itulah yang kadangkala dipelihara penguasa politik untuk melegitimasikan kekuasaan. contoh--> perayaan Asy-Syura di Iran yang telah dinasionalisasikan dalam simbol2 nasional.

sedangkan, agama sebagai ideologi itu adalah keyakinan yang secara sadar dipilih untuk menjawab persoalan dan kebutuhan masyarakat.

siapa saja yang memilih ideologi ia akan mengetahui mengapa ia tidak puas dengan suatu sistem dan mencoba mengkritiknya, setelah mengetahui itu, ia merasa perlu untuk melakukan perubahan yang fundamental..


Aristoteles atau plato, menurt Syari'ati, hanyalah filosof biasa karena tidak memiliki keyakinan dan kesadaran untuk melakukan tindakan perubahan dalam masyarakat. masih menurut Syariati, para nabi lah yang selalu muncul untuk mengubah sejarah, mengubah mayarakat, memulai dan membuat revolusi.


contoh Islam-ideologi
di Afrika --> menurt masyarakat muslim di Afrika islam adalah ideologi untuk menentang rasisme dan ketidakadilan.


hhmmm.... itulah kira2 cuplikan kata pengantar dari buku "Marxisme dan sesat pikir Barat Lainnya", Ali Syariati (revolusioner Iran selain Imam Khomeini dkk). penerbit Mizan, dan pengantar oleh M. Dawam Rahardjo.

semoga bermanfaat...


_mee_

Ayo Buat Zine! Do It With Your Friends!

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bosan rasanya melihat
posting-posting di blog ini yang menyangkut-pautkan setiap hal dengan Orientasi Jurnalistik. Whoaaa, sereeemm!! Tapi yasudahlah ya! Ada hal lebih bermutu buat dibicarakan, dan saya menyadari bahwa OJ ini hanya sebatas kisah klasik setiap orang yang pernah mengikutinya. Lelah, Bosan, Marah hanya sedikit bumbu baginya.
Sudahlah.
Posting di bawah adalah repost seperti yang pernah saya tuliskan di notes "facebook" dan tidak semua kawan-kawan memiliki "facebook". Oleh sebab itu, saya juga memposting di sini. Amat sangat telat memang, tapi ya better late than never dan dengan sedikit perubahan teks seiring dengan perubahan rencana.
Ok!
here we go!

S
aya ingin sedikit memperkenalkan apa sih zine itu? Karena mungkin konsep dari zine itu masih sedikit bias di mata kita semua.
Zine [ziːn], "zeen" adalah sebuah media yang dibuat secara murah, tidak komersil, dicetak dalam jumlah yang tidak besar, dan biasanya di reproduksi lewat mesin fotokopi. Yang terpenting dari esensi zine ini adalah yang diincar bukanlah profit dari media ini sendiri, melainkan bentuk dari pesan/propaganda yang disampaikan itu sendiri.
Topik yang diangkat bervariasi, dimulai dari politik, fanfiction, seni dan design, musik, jurnal pribadi,
ephemera dan lain-lain di luar kekangan budaya mainstream dimana media-media tradisional sangat mengagung-agungkannya. Intinya, zine adalah sebuah media cetak dimana kita bisa bersuara dan dikonsumsi oleh orang-orang yang ingin membacanya.
Sejak ditemukannya percetakan, kaum minor dan rakyat yang termarjinalkan memiliki cara lain untuk menyampaikan pendapat yakni melalui format
leaflet dan pamflet. Di abad 18 Benjamin Franklin membuat sebuah media internal sebuah rumah sakit dan hanya didistribusi di kalangan rumah sakit itu saja. Ini bisa disebut sebagai zine pertama.
Punk zine sebagai salah satu dari pergerakan punk di akhir dekade 70-an muncul. Dimulai dari Amerika dan Inggris, punk zine ini direproduksi dan didistribusi hingga ke Irlandia sekitar tahun 1977. Seiring waktu berjalan, variasi dari zine terus berkembang dan makin dikenal banyak masyarakat, meski banyak yang menganggap bahwa zine telah diboncengi oleh ideologi-ideologi yang merusak, tapi zine masih menjadi salah satu media counterculture yang diminati oleh para penikmatnya. Buang jauh-jauh ideologi karena ideologi kita adalah ideologi pertemanan!!!!!!
Do It Yourself (DIY) atau mungkin Do It With Your Friends adalah inti dari zine ini. Dimulai dari sendiri dan/atau bersama teman-teman.
Demikian sedikit inroduksi yang saya dapat dari beberapa sumber.
Komentar akan sangat membantu.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Haekal Adzani

Acuan yang bisa kawan-kawan cari:
(
english)

Buku:
(english)
  • Stolen Sharpie Revolution: A DIY Zine Resource by Alex Wrekk
  • Whatcha Mean? What's a Zine by Esther Watson
  • Making Stuff and Doing Things by Kyle Bravo
  • Zine Scene: The Do It Yourself Guide to Zines by Francesca Lia Block
P.S: Buat acuan buku saya belum pernah membacanya, hanya mendapatkan sedikit resensi dan cerita dari orang yang telah membacanya. Jika kawan-kawan ada yang punya mungkin bisa sedikit bertukar. Thanks!

Teringat, Click

Click..!! Sebuah film yang diperankan oleh Adam Sandler beberapa tahun lalu, teringat olehku. Emang film jadul tapi dengan keadaan kita yang sekarang ini, sepertinya cocok untuk dikemukakan kembali apa yang tersirat di dalam film itu.

Ingatkah kalian?
ingat sewaktu Adam Sandler menemukan remote pengontrol segala macam, sewaktu hidupnya tak sesuai dengan yang diinginkannya?
ingat sewaktu Adam Sandler menggunakan remote untuk membuat slow motion, sewaktu si Cewe cakep ber****K gede (Ooops!!!!) lagi berlari?
ingat sewaktu Adam Sandler menemukan remote untuk mempercepat waktu, sewaktu istrinya marah?
ingat sewaktu Adam Sandler menggunakan remote untuk dia kembali ke masa lalu, mengingat kejadian pertama kali dia bertemu dengan istrinya ketika dia ditanya di masa sekarang mengenai hal itu?
ingat sewaktu Adam Sandler menggunakan remote, sewaktu dia dimarahi oleh bosnya dan dia mem"pause" keadaan dan memukul bos-nya?
ingat sewaktu Adam Sandler menggunakan remote untuk memperpanjang waktu ketika dia berhubungan dengan istrinya??
ingat....??(tentu kalian ingat..kalo  nggak ingat, udah pikun noh kalian, segera hubungi dokter jiwa terdekat...>_<)

Di film ini, si Adam Sandler bisa mengendalikan kehidupannya dengan hanya sekali klik.

Click!! apa yang dia inginkan bisa dia lakukan. Tapi pada akhirnya toh dia mengembalikan kehidupannya ke awal lagi. Ke waktu dia belum mendapatkan remote pengontrol segalanya dari seorang ilmuwan gila.

Film ini menyiratkan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengatur kehidupan kita sendiri. Karena apa yang telah diatur oleh Tuhan terhadap hidup kita itu adalah hal yang terbaik untuk kita. 
Tugas OJ yang diberiakan oleh senior termasuk di dalamnya. Hidup kita telah diatur oleh Tuhan.  Kita tidak akan mendapatkan hasil yang sempurna jika kita bisa mengendalikan OJ dengan satu kali Click dan OJ yang selama 4 bulan ini kita percepat. Pasti.
Pada akhirnya, kita pasti akan tetap memilih bersusah payah mengerjakan semua "tetek-bengek" OJ karena itu yang terbaik untuk kita, dan itu yang kita butuhkan...

ingat...
God give what u need, not what u want!!

Pepatah mengatakan, "Seperti mencari jarum dalam jerami"
dalam buku peribahasa Indonesia, pepatah itu dimaksudkan "pekerjaan yang sis-sia".
Menurut saya, itu SALAH!!
Pepatah tersebut tidak mendidik kita untuk optimis dalam menghadapi masalah.
Dia mematahkan semangat kita sebelum kita berusaha berjuang untuk menemukan satu jarum di dalam jerami.
Bagaimanapun, pasti di dalam jerami itu ada satu jarum, dan walaupun peluang untuk menemukannya sangatlah kecil sekali..namun dengan perjuangan dan usaha, kita pasti bisa menemukan jarum tersebut.

Mencoba menganalogikan, Kita harus berusaha keras dan berjuang untuk menyelesaikan tugas-tugas OJ. Walaupun itu ringan ataupun sangan berat, kita pasti akan bisa menempuh semuanya dan berhasil mendapatkan apa yang kita cari, , ,

Ilmu dan Jaket Biru.........................!!!!!

tebak2 an.....

oke gifar oke... old school (baca sunda ala gifar.. hehe, bcanda deng), ada lagi ni..

hhmmmm..... waktu itu sebuah mobil meluncur di sebuah jalan yang sunyi, sepi, senyap (alah lebay..), tidak ada lampu di jalan, semua lampu di rumah2 pun mati.. tiba-tiba mobil itu ngerem mendadak, ternyata ada kucing lewat...


pertanyaannya, kok c sopir bisa liat itu kucing ya???



yang udah tahu jawabannya, berpura-puralah tidak tahu y.... kasihani diriku.... hahahaha.....


_mee_


biar posting ini mengandung sedikit manfaat, ami tambah quotation keren ni dari bukunya Ali Syari'ati, sapa tahu bisa dijadiin sumber:

"jadi inilah manusia modern. lebih hebat dari nenek moyangnya, dapat membangun manusia tetapi kurang tahu akan apa yang ia bangun. berkenaan dengan kehidupannya, ia dapat hidup dari kehidupan macam apapun yang ia senangi, tetapi ia tidak tahu bagaimana, sebab ia tidak tahu mengapa. ini adalah pertanyaan dasar. untuk itu orang tidak dapat menemukan jawaban dalam masyarakat kapitalis dan tak seorangpun berani mengajukannya dalam masyarakat komunis"


ada yang pusing tidak?? i'm with you, hehehehe....


(judul asli: "Manusia, Marxisme dan Islam" tapi diubah ma editor judulnya jadi: "Marxisme dan sesat pikiran barat lainnya. intinya kata "sesat" tidak diberikan oleh penerbit asli)

your own bili-bili

kita bersama
bersatu dalam asa
kembali bersinar dalam malam
berkumandang layaknya azan
jangan tinggalkan kenangan kita kawan

aku menunggu kita berkumpul
berhasrat membela kebenaran
aku hanya ingin kemenangan
yang terang dan berdendang ,,,

sampaikan albumku pada ibu
sampaikan tawaku pada kalian
jurnal 2007

kita bebas....
ada yang punya ide untuk menang?
kita buat sejarah baru ...

Mencoba Memahami


Sebuah senyuman mengawali tulisan ini. Berawal dari hati bukan dari otak, tapi tanpa mengesampingkan otak. Kata orang, kalau menulis itu harus dari hati, jadi apa yang ditulis adalah apa yang dirasakan, bukan dari otak, apa yang ditulis adalah apa yang dipikirkan. Tapi tetap saja, menulis itu harus pakai otak. Segala fungsi saraf dibutuhkan saat proses menulis. Otak sampai saat ini diyakini sebagai pusat kendali saraf.

Itu sekelumit pengetahuan yang masih menempel di memori. Mohon dimaklumi, latar belakang dari kelas IPA saat di SMA dulu, belum bisa dihilangkan. Bila teman-teman ingin tanya soal "daleman" manusia secara fisik, teman-teman tidak akan salah tempat. Walau sekarang bergelut di ranah sosial, pelajaran sains masih belum lekang. Setidaknya, pengetahuan dari mulai sel hingga organisme masih dimengerti, walau sedikit.

Sebenarnya, bagi yang bukan berlatar belakang IPA pun, sains apalagi mengenai manusia secara kasat mata, itu mudah dipahami. Orang ngerti kenapa seseorang yang makan makanan pedas (bagi yang tidak biasa) jadi mencret-mencret. Atau kenapa seseorang itu lapar, kenapa berkeringat, kenapa seseorang kalau malu mukanya merah, orang-orang tahu alasannya, tahu ilmunya dan mudah dipelajari atau lebih tepatnya mudah dipahami.

Lalu bagaimana "daleman"-nya yang tidak kasat mata. Maksudnya bukan yang tertutup pakaian, melainkan yang memang benar-benar tidak bisa dilihat apalagi diraba tapi hanya bisa diterawang. Penerawangannya pun dapat menimbulkan multitafsir. Perlu verifikasi yang mendalam mengenai penerawangan tersebut kepada orang yang bersangkutan.

Sedikit berbicara teori komunikasi, seseorang itu dipengaruhi field of experience dan frame of reference. Untuk tercapai komunikasi yang well tune, hanya perlu sedikit saja irisan yang sama. Kedua elemen itu memang signifikan memengaruhi sikap dan tindak tanduk sesorang. Dengan perbedaan kedua elemen itu di setiap orangnya, menjadikan setiap orang memiliki keunikannya tersendiri. Itulah manusia, unik dan beda setiap orangnya. Malah, bila tidak punya keunikan tersendiri, perlu dipertanyakan predikat ke"manusia"annya. Kalaulah ada keseragaman, sekali lagi itu hanya irisan kecilnya saja. Dengan ada kesamaanlah, persatuan dan kesatuan dapat dibangun. Bila ada perbedaan apalagi pertentangan, yang terjadi adalah kebalikannya. Perlu kesamaan yang fundamental untuk membentuk suatu keseragaman. Memang itu tidak dapat dipaksakan. Hal-hal semacam inilah yang masuk kategori tidak kasat mata. Abstrak.

Seorang teman lama yang dulu pernah satu SMP kirim sms, "sbagai partner setia & spemikiran,tlOng kasi 1 alasan /motif lOgis knp saia hrs mngrjkn tgs2 yang mlai mnggila ini?! Saia krg b'smngt nih. G ad mOtivasi kuat." Sebagai informasi dia kuliah di Jurusan Sastra Inggris semeter 3 di salah satu universitas negeri di Kota Bandung. Bagaimana menyikapi hal ini? Jawaban akan mudah dicari bila sms-nya adalah, "Saya ngerasa diare, saya mesti ngapain nih?"

Mengenai emosional dan hal-hal immateri lainnya yang melekat pada manusia inilah, yang tidak mudah. Tidak mudah dalam segala aspek. Tidak mudah untuk disimpulkan, tidak mudah untuk ditafsirkan, tidak mudah untuk digiring, dan ketidakmudahan lainnya. Bagaimana saya menjawab pertanyaan teman saya itu. Perihal motivasi, prinsip, sifat, kecenderungan, respon, perasaan, dan lainnya adalah wujud yang tidak berbentuk secara fisik. Untuk menjawab pertanyaan teman saya itu, nampaknya saya harus tahu dan mengerti field of experience dan frame of reference-nya. Itu mungkin salah satu caranya.

Selama itu tidak dikomuniaksikan, kita tidak akan pernah tahu. Alasan teman saya mengirim sms itu. Sikap terbaik untuk menyikapi hal tersebut adalah dengan positive thinking. Positive thinking inilah yang mesti ditularkan kepada setiap orang yang sedang menafsirkan tindak tanduk siapa pun yang belum bisa diketahui latar belakangnya. Sekalipun perilaku yang ditunjukkannya itu adalah perilaku yang negatif. Bagaimanapun perilaku yang nampak dari seseorang, semuanya itu berdasarkan hal-hal yang tidak berwujud. Bila yang muncul adalah hal negatif pula, apa bedanya dengan perilaku negatif tersebut.

Saya bisa berpikir teman yang mengirim sms saya itu orang yang pemalas atau berpikir dosen yang memberi tugas itu tidak berprikemanusiaan. Tetapi saya juga dapat berpikir bahwa teman saya memang sedang kelelahan dan dosennya sudah memberikan tugas sesuai porsinya. Berpikir yang mana ya?

Yang pasti saya tidak ingin ikut sakit. Hal negatif hanya akan membawa kepada ketidaktenangan. Ketidaktenangan hanya membawa pada ketidakdamaian.
Sebuah senyuman (lagi) ingin mengakhiri tulisan ini.